Ayo, Indonesia!

Ayo, Indonesia!

Seputarinformasi.com -Masyarakat Indonesia mudah terbelah. Apa yang terjadi di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa Indonesia rentan terkubu-kubu, yang seringkali berujung pada kefanatikan. Ini bisa terlihat mulai dari urusan politik-politikan sampai bola-bolaan.

Mungkin bukan saya saja yang merasa sosial media saat ini penuh ketegangan, khususnya memasuki pertengahan November. Mulai dari urusan Pilkada, kasus keagamaan, hingga menjelang laga-laga panas di sepakbola Eropa, bisa memicu nafsu untuk meyakinkan diri paling benar. Status lawan, teman, atau bahkan saudara pun seolah tak ada lagi bedanya ketika prinsip hidup yang menjadi pertaruhan. Ini semua lalu bermuara pada menebar kebencian dan permusuhan.

Tapi di tengah kegentingan saat ini, sepakbola nasional kembali menggeliat. Selepas FIFA mencabut hukuman pada federasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), tim nasional Indonesia bisa kembali berlaga di laga internasional.

Bahkan setelah sempat vakum selama satu tahun lebih, timnas akan menghadapi ajang yang cukup bergengsi di kalangan Negara-negara Asia Tenggara; Piala AFF 2016. Dengan status Piala AFF yang mulai lebih bernilai karena sudah masuk kalender FIFA, turnamen ini tentu menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengatrol peringkat di FIFA. Saat ini, Indonesia berada di peringkat 179 dari 205 negara.

Kehadiran timnas Indonesia juga bisa menjadi semacam obat pereda ketegangan. Setidaknya ketika Indonesia Raya berkumandang dan bola bergulir selama 2×45 menit nanti.

Memang untuk mendukung timnas Indonesia saat ini butuh pengorbanan. Misalnya, pengorbanan hati. Tak sedikit dari kita yang berekspektasi tinggi pada timnas, tapi kenyataan justru membuat kita optimis untuk pesimis.

Hal ini jelas cukup memprihatinkan. Beberapa tahun lalu, setiap menjelang gelaran Piala AFF, masyarakat Indonesia biasanya demikian positif timnas Indonesia bisa berbicara banyak dan yakin bisa meraih gelar juara. Hal itu sejurus dengan penampilan Indonesia pada ajang yang sebelumnya bernama Piala Tiger tersebut. Tim Merah Putih pernah mencapai babak final sebanyak empat kali. Yah, walau tak sekalipun membawa pulang gelar juara, tapi hal itu cukup menunjukkan kalau di Asia Tenggara, Indonesia boleh diadu.
Namun sekarang, banyak hal yang meredam harapan pada timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Bahkan Indonesia bisa dibilang tidak akan tampil maksimal di Piala AFF 2016 ini karena dipastikan tidak akan tampil dengan kekuatan terbaik.

Pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl, tidak bisa leluasa memanggil 23 pemain yang ia inginkan. Sejak awal pelatnas belum dimulai, ia terbentur aturan maksimal memanggil dua pemain dari setiap klub.

Terdengar aneh, tapi begitulah adanya. Riedl hanya bisa memanggil dua pemain dari satu klub yang sama. Misal dalam satu klub Indonesia ada lima pemain yang layak atau cocok dengan skemanya, ia tetap hanya bisa memilih dua pemain saja.

Hal ini berkaitan dengan penyelenggaraan Indonesia Soccer Championship. PT. Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku operator ISC, tidak ingin jadwal ISC terganggu dengan adanya persiapan timnas untuk pemusatan latihan bahkan hingga Piala AFF 2016.

“Kompetisi tetap lanjut, tapi maksimal tiap klub hanya akan melepas dua pemain untuk bergabung ke timnas dan ini merupakan kesepakatan klub-klub,” tutur CEO PT. GTS, Joko Driyono.

Maka yang terjadi kemudian adalah, persiapan timnas kerap berbenturan dengan ISC. Sejumlah klub menjalani liga dengan tak diperkuat pemainnya yang membela timnas. Sementara timnas dikorbankan dengan hanya memilih maksimal dua pemain dari setiap klub.

Maka tak heran ketika timnas menjalani laga pertama melawan Thailand, ada tiga pertandingan yang digelar di hari yang sama. Tak tanggung-tanggung, deretan nama seperti Persib, Arema Cronus, Semen Padang, atau Persipura bertanding justru ketika #TimnasDay nyaring berkumandang di media sosial.

Situasi di atas jelas tidak ideal, khususnya bagi Alfred Riedl. Pelatih asal Austria tersebut tak bisa memilih pemain-pemain terbaik Indonesia di setiap posisinya. Ia harus memutar otak lebih keras untuk bisa menyesuaikan kebutuhan strateginya dengan aturan tersebut. Sejumlah pemain berkualitas Indonesia pun terpaksa tak bisa tampil berseragam timnas Garuda.

Meskipun begitu, aturan maksimal dua pemain per klub juga memberikan keuntungan bagi beberapa pemain yang belum pernah membela timnas. Ya, aturan ini memang memunculkan kesempatan bagi pemain yang namanya belum familiar di skuat timnas untuk bisa unjuk gigi, seperti Bayu Pradana, Abdul Rahman, dan Lerby Eliandri, serta para pemain muda dalam diri Yanto Basna, Hansamu Yama, Abduh Lestaluhu, Teja Paku Alam dan Muchlis Hadi.

Ah, tapi tetap saja, setiap solusi yang diambil harusnya tidak merugikan kepentingan timnas. Kepentingan bela Negara. Persoalan mengibarkan Merah Putih di pentas tertinggi.

Karena jika sudah begini, situasi membuktikan bahwa federasi selaku induk sepakbola Indonesia tak memiliki power untuk ‘mengganggu’ ISC yang padahal bukan liga resmi.

Masalah timnas Indonesia tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Beberapa hari menjelang Piala AFF 2016 digelar, salah satu pemain andalan timnas, Irfan Bachdim, mengalami cedera cukup parah. Cedera tersebut membuatnya harus tersingkir dari daftar skuat Piala AFF 2016.

Situasi ini jelas akan membuat Riedl tambah pusing, karena penyerang yang bermain di divisi dua Liga Jepang bersama Consadole Sapporo tersebut sangat cocok dengan sistem yang diterapkan Riedl. Selama pemusatan latihan dan laga uji tanding, sangat terlihat jika Riedl cukup bertumpu pada kemampuan pemain keturunan Belanda tersebut.

Muchlis Hadi dari PSM Makassar kemudian dipilih untuk menggantikan Irfan Bachdim. Namun pemilihan Muchlis Hadi harus melalui jalan yang berliku, karena awalnya, pemain yang diinginkan Riedl sebagai pengganti Irfan adalah Ferinando Pahabol.

Pahabol pada akhirnya urung bergabung lantaran kesebelasan yang dia bela, Persipura Jayapura, kadung sakit hati terhadap PSSI saat memulangkan Dominggus Fakdawer. Kubu Persipura berpendapat jika PSSI tak memiliki etika ketimuran. Federasi sepakbola Indonesia lagi-lagi memunculkan masalah yang justru akhirnya menyulitkan dirinya sendiri.

Bisa dilihat, timnas Indonesia memiliki banyak masalah dimulai dari pemusatan latihan, uji tanding, hingga berjalannya Piala AFF 2016 nanti. Akan tetapi, hal ini jangan dijadikan alasan untuk mengabaikan timnas Indonesia. Dengan situasi seperti ini, dukungan bagi timnas Indonesia justru menjadi lebih genting lagi.

Sebagaimana esensi pendukung, kita harus menunjukkan bahwa pemain ke-12 itu nyata adanya. Timnas Indonesia, dengan segala permasalahan yang mereka hadapi, benar-benar membutuhkan dukungan ini, apalagi mereka akan menghadapi lawan-lawan kuat seperti Thailand, Filipina, dan Singapura.

Ini bukan sekadar dukungan terhadap timnas Indonesia, tapi juga untuk menyerukan bahwa Indonesia tidak boleh terpecah belah. Karena sebagaimana slogan Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda-beda tetapi harus tetap satu Indonesia.

Oleh karena itu, sebagaimana sepakbola yang kerap menjadi pemersatu bangsa, menggelorakan #AyoIndonesia sepanjang Piala AFF 2016 ini pun kami harapkan bisa jadi momen yang tepat agar masyarakat Indonesia kembali satu suara, tanpa melihat latar belakang.

Di tengah gelombang kekarutmarutan yang tak kunjung reda, pada 2×45 menit nanti kami berharap perbedaan itu akan meluruh dan kita sama-sama berteriak (Mrj)

About author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *